Sabtu, 23 Januari 2010

Cara Menjadi Sarjana Ekonomi

menurut saya cara yang tepat untuk menjadi sarjana ekonomi adalah

1.Manusia Yang  Waras,,(hehehe)
2.Telah Menempuuh Pendidikan Selama 12 Tahun,,,SMA ato Sederajat Lah,,
(ga mungkin donk lulus SD langsung kuliah,,,hehehehe)
3.Mendaftarkn Diri Ke  Universitas atau Perguruan Tinggi Yang di Inginkan,,
ingat,,,Jurusan Yang Anda Ambil Harus EKONOMI,,,
4.Sungguh-Sungguh Dalam Kuliah,,
(jangan seperti saya,,menggejar gelar hanya unutuk memperpanjang nama doank,,,hehehehe)
5.Minta Doa Restu Orangtua...

Saya Kira Itu Cukup Untuk Menjdi Modal Awal Anda untuk Menjadi Sarjana Ekonomi,,

Cara Menjadi Sarjana Ekonomi

Selasa, 19 Januari 2010

Kalau Belum Siap Kenapa Memaksa Siap

Kalau Belum Siap Kenapa Memaksa Siap [ Perdagangan Bebas Asean - Cina ]

Di tengah gempuran hebat produk China ke Tanah Air, Indonesia menegaskan tetap ikut memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010. Itu berarti hanya dalam waktu sepuluh hari lagi, pasar kita bakal kian dikepung oleh produk China, baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.
Di negara maju seperti Australia saja, produk Cina masih dikenakan pembatasan
Di negara maju seperti Australia saja, produk Cina masih dikenakan pembatasan
Lalu, apa salahnya dengan produk China? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia lagi, selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan produk dalam negeri, bahkan lebih buruk.
Produk China juga masih diragukan keamanannya bagi kesehatan. Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah sehingga produk dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati.
Saat ini hampir semua jenis produk China melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia.
Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya mencapai 8,55%.
Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81% menjadi 11,37%.
Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah.
Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak.
Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China.
Belum terlambat bagi pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan itu. Dengan melihat masih compang-campingnya industri manufaktur kita, ada baiknya bila Indonesia menunda implementasi perdagangan bebas dengan China itu. Modal nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur. (Editorial Media Indonesia)

sumber :  http://indocashregister.com/2009/12/22/kalau-belum-siap-kenapa-memaksa-siap-perdagangan-bebas-asean-cina/v

Perdagangan Bebas ASEAN-China Bisa Untungkan Indonesia

Perdagangan Bebas ASEAN-China Bisa Untungkan Indonesia

Perdagangan bebas antara negara-negara di Asia Tenggara dengan China dinilai bisa menguntungkan Indonesia jika aturan-aturan dan formatnya benar-benar diaplikasikan dengan benar.
“Kita boleh saja khawatir. Tetapi perdagangan bebas itu justru bisa menguntungkan kita karena kini ada perjanjian-perjanjian yang mengikat dan harus dipenuhi negara-negara yang terlibat di dalamnya,” ujar Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara H Chaidir Ritonga di Medan, Selasa.
Ia mengakui China bisa saja akan jauh lebih dominan dibanding negara-negara di ASEAN ketika perdagangan bebas diberlakukan sejak 1 Januari 2010. China bisa saja lebih menguasai perdagangan karena produktivitas tenaga kerjanya yang tinggi dan mampu berproduksi secara massal.
Namun demikian, menurut Chaidir, kekhawatiran akan hal itu tidak perlu terlalu berlebihan karena dalam kesepakatan perdagangan bebas itu sendiri terdapat klausul-klausul yang harus dipenuhi negara-negara yang terlibat.
Jika selama ini produk-produk China telah “membanjiri” pasar dalam negeri secara tidak terkendali dan bahkan berpeluang mematikan industri lokal, dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas akan ada aturan-aturan yang harus dipenuhi semua pihak.
Indonesia sendiri harus menentukan format yang tepat agar perdagangan bebas ASEAN-China tersebut tidak sampai mematikan industri di dalam negeri.
“Kita harus menentukan format yang tepat untuk melindungi industri-industri kita. Misalnya, industri-industri yang meliputi hajat hidup masyarakat dalam skala besar harus bisa dilindungi agar tidak digerus produk industri dari China,” katanya.
Pada bagian lain Chaidir Ritonga mengakui Indonesia selama ini tertinggal dalam mengemas industri dalam negeri dibanding China.
China jauh lebih agresif mendorong ekspor ke luar negeri dalam bentuk skim-skim kebijakan dan mendorong industri bersaing secara produktif. China bahkan menerapkan tarif pajak hingga nol persen yang secara langsung menekan harga ekspor.
“Dengan produksi massal, biaya produksi produk-produk China rendah karena biaya per unitnya, sehingga selalu bisa bersaing di negara lain,” kata dia.
Menurut dia, kini saatnya pemerintah memikirkan bagaimana mendesain industri dalam negeri sedemikian rupa agar bisa bersaing dengan produk-produk China. Indonesia sebaiknya juga menampilkan produk-produk yang memiliki keunggulan komperatif tertentu untuk menyaingi produk asal negara “tirai bambu” tersebut.
“Jika selama ini China menerapkan konsep ‘by design’ untuk insdutri-industrinya dengan memberikan berbagai kemudahan, kini saatnya Indonesia juga menerapkan hal serupa, sehingga industri kita tetap eksis di tengah persaingan bebas,” ujarnya.
Pemerintah juga diharapkan terus mendorong kemandirian industri nasional. “Apabila kemandirian rendah, industri nasional akan sulit bersaing di era perdagangan bebas,” katanya politisi dari Partai Golkar itu.

sumber : http://www.antarasumut.com/berita-sumut/perdagangan-bebas-asean-china-bisa-untungkan-indonesia/

"Perdagangan Bebas ASEAN-China Jalan Terus"

Sekjen ASEAN
"Perdagangan Bebas ASEAN-China Jalan Terus"
Pemerintah Indonesia ingin melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan ASEAN-China.
Rabu, 13 Januari 2010, 19:38 WIB
Heri Susanto

Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan (VIVAnews/Tri Saputro)
Negara-negara ASEAN tidak akan menunda implementasi zona perdagangan bebas dengan China yang dihujani kritik dari sejumlah pelaku bisnis. Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan, mengatakan, semua negara ASEAN sangat berkomitmen dalam menerapkan kesepakatan Free Trade Area (FTA).

Mengenai surat pemberitahuan untuk melakukan negosiasi ulang terkait FTA yang dikirimkan pemerintah Indonesia, Surin mengaku tidak mengetahui. "Kesan saya adalah semua negara sangat, sangat berkomitmen," katanya dalam pertemuan menteri luar negeri 10 negara anggota ASEAN di Da Nang, Vietnam, Rabu 13 Januari 2010.

"Dari yang saya dengar, beberapa sektor swasta mengajukan keluhan, tetapi para pemerintah tidak akan melakukan apapun untuk menunda (implementasi FTA)," lanjut Surin seperti dikutip dari laman harian Straits Times.

Harian Asian Wall Street Journal memberitakan bahwa pemerintah Indonesia ingin melakukan negosiasi ulang terkait kesepakatan perdagangan ASEAN-China yang mulai efektif pada 1 Januari lalu.

Pemerintah telah mengirim surat ke ASEAN berisi permintaan untuk menunda pemberlakuan tarif nol bagi sejumlah produk karena kekhawatiran terhadap impor produk murah China. Surat itu juga berisi permintaan agar penurunan tarif bagi 60 item lain ditangguhkan selama dua tahun dan untuk 22 item ditunda hingga 2018.

sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/121011-_perdagangan_bebas_asean_china_jalan_terus_

Perdagangan Bebas ASEAN-China Tidak Bisa Dihalangi

Perdagangan Bebas ASEAN-China Tidak Bisa Dihalangi

Karimun, Kepri (ANTARA News) - Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Karimun, Jamaluddin, berpendapat, pemberlakuan Persetujuan Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN-China tidak bisa dihalang-halangi golongan manapun.

"Di era globalisasi tidak akan ada yang bisa menghalangi sebab tidak ada lagi batas negara bagi para pengusaha dalam mengembangkan usaha dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Jamaluddin di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Senin.

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah dalam ASEAN-China FTA hendaklah dinilai secara menyeluruh.

"Lihatlah dari semua sisi. Harus diakui bahwa dampak positifnya bagi konsumen cukup besar."

Selain mengetengahkan dampak positif, ia meyakini pemberlakuan kebijakan perdagangan bebas mulai 2010 itu tidak secara serta merta disusul dengan banjir produk China, sebab akan ada regulasi mengenai hal tersebut.

Pemerintah pusat dalam kaitan dengan ASEAN-China FTA harus serius membangun sesuai dengan potensi daerah-daerah.

Karimun, di daerah perbatasan Singaopura dan Malaysia, dapat menjadi pintu gerbang wilayah Barat Indonesia.

Mata pengusaha dari luar negeri perlu lebih dibuka untuk mengenali dan menggali lebih dalam potensi Karimun.

Di era ASEAN-China FTA, berbagai produk dari luar negeri sebelum membanjiri beranda barat Indonesia itu, menurut Jamaludin, tentu akan didahului dengan survei yang valid untuk kepentingan pengusaha bersangkutan.

"Terbuka kemungkinan, survei menunjukkan pengusaha itu perlu mendirikan usaha baru di Karimun," ucapnya.

Jamaluddin menyatakan yakin hal yang sama juga akan dialami wilayah Indonesia lainnya, karena setiap wilayah memiliki potensi yang berbeda.

"Keberadaan usaha tadi otomatis akan membuka lapangan kerja baru. Jadi jangan terlalu khawatir seakan-akan ASEAN-China FTA hanya akan meningkatkan jumlah pengangguran," ujarnya.

Tentang hilangnya pendapatan dari bea masuk barang, menurut dia, akan tertutupi dari berbagai pendapatan lain, misalnya dari penerbitan keterangan izin tinggal sementara dan keterangan izin tinggal tetap bagi tenaga kerja asing (TKA).

"Jumlah TKA otomatis akan meningkat seiring meningkatnya jumlah usaha yang didirikan pengusaha asing," katanya.

Bila ada UMKM dan industri lokal tutup sebagai dampak pemberlakukan ASEAN-China FTA, ucap dia, itu akibat seleksi alam karena tidak mampu menghasilkan produk yang bermutu.

Perdagangan bebas ASEN-China akan membuktikan keberhasilan atau kegagalan program pemberdayaan UMKM serta industri lokal yang telah menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit jumlahnya, katanya.(*)
sumber : http://www.antaranews.com/berita/1263243692/perdagangan-bebas-asean-china-tidak-bisa-dihalangi